Fusa online – Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kembali menyelenggarakan kegiatan akademik bertajuk Visiting Lecturer pada Selasa (29/4/2025). Bertempat di aula fakultas, kegiatan ini mengangkat tema menarik: “Jurnalisme Tafsir Al-Qur`an: Peran Aktor, Limitasi, dan Legitimasi Modernisme di Indonesia.” Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. D.I. Ansusa Putra, Lc., MA.Hum, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Sosial Budaya dari UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Acara yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.00 WIB ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FUAD. Kegiatan ini merupakan bagian dari diseminasi hasil penelitian dosen sekaligus menjadi upaya pelestarian budaya akademik yang dinamis di kampus.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan khidmat. Aura Febriani bertindak sebagai Master of Ceremony, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Ihsan. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dinyanyikan bersama, dipandu oleh Siti Qomariah, dan doa dipanjatkan oleh Tukma Tri Putra Panjaitan untuk kelancaran acara.
Sambutan dan pembukaan resmi disampaikan oleh Dr. Zulfan Taufik, MA.Hum, selaku Wakil Dekan I FUAD. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya forum ilmiah semacam ini dalam mendorong diskusi akademik yang berkualitas serta memperluas jangkauan hasil riset. “Kegiatan seperti ini sangat penting agar hasil penelitian dosen tidak hanya mengendap di perpustakaan, tetapi memiliki daya tawar dan dapat dikaji bersama oleh berbagai kalangan, baik akademisi maupun mahasiswa,” ujarnya.
Diskusi ini dimoderatori oleh M. Taufik, MA, dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUAD, yang turut menciptakan suasana dialogis dan komunikatif selama berlangsungnya acara.
Dalam pemaparannya, Prof. Ansusa menjelaskan bahwa salah satu aspek penting dalam studi tafsir kontemporer di Indonesia adalah peran jurnalisme dalam menyebarluaskan gagasan-gagasan tafsir Al-Qur’an. Ia meneliti tiga majalah muslim populer pada era 1970–1980, yaitu Al-Ashri, Panji Masyarakat, dan Suara Muhammadiyah.
Menurutnya, masing-masing majalah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal aktor penggerak, legitimasi wacana, serta sasaran audiens, khususnya dalam merespons arus modernisme di kalangan muslim Indonesia. Ia juga menunjukkan bagaimana para aktor media membingkai tafsir ke dalam bentuk tulisan populer yang tetap mengandung nilai-nilai akademik dan dakwah, namun dapat diakses oleh pembaca awam, kalangan terpelajar, dan intelektual.
Sesi diskusi berlangsung hangat dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Mahasiswa dan dosen mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari metodologi penelitian jurnalisme tafsir hingga potensi pendekatan serupa diterapkan dalam konteks digital masa kini.
