FUSA Angkat Isu Karhutla melalui Perspektif Agama dan Kesehatan dalam Live TikTok “Berdamai dengan Kabut”

Berita 2 menit baca 18 kali dilihat
FUSA Angkat Isu Karhutla melalui Perspektif Agama dan Kesehatan dalam Live TikTok “Berdamai dengan Kabut”

Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada lingkungan serta kesehatan masyarakat melalui kegiatan diskusi bertema “Berdamai dengan Kabut: Kajian Agama dan Kesehatan” yang disiarkan secara langsung melalui akun TikTok resmi @official.fusa.uinjambi, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian FUSA dalam merespons persoalan lingkungan yang berulang kali dihadapi masyarakat, khususnya kabut asap akibat karhutla. Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan ekosistem, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, kehidupan sosial, aktivitas pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat.

Melalui tema “Berdamai dengan Kabut”, FUSA berupaya menghadirkan ruang diskusi yang menghubungkan perspektif keagamaan dengan persoalan kesehatan. Pendekatan ini penting untuk membangun pemahaman bahwa karhutla bukan semata-mata persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan moral, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan kehidupan manusia.

Dari perspektif agama, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Prinsip menjaga kemaslahatan, menghindari kerusakan (fasad), serta melindungi kehidupan menjadi landasan etis bagi umat beragama untuk turut mencegah tindakan yang merusak alam. Pembakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat perlu menjadi perhatian bersama, sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran untuk merawat lingkungan secara berkelanjutan.

Sementara itu, dari perspektif kesehatan, kabut asap berpotensi mengganggu sistem pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit tertentu. Karena itu, kesadaran menjaga lingkungan perlu berjalan beriringan dengan upaya melindungi kesehatan masyarakat melalui pencegahan karhutla, peningkatan literasi kesehatan, dan penerapan langkah perlindungan diri ketika kualitas udara memburuk.

Pemanfaatan platform TikTok sebagai media siaran langsung juga menjadi upaya FUSA untuk mendekatkan diskusi akademik kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui media digital, isu lingkungan dapat dibahas dengan cara yang lebih mudah diakses, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam merespons persoalan karhutla. Kajian agama dapat memberikan landasan nilai dan etika, sedangkan perspektif kesehatan membantu masyarakat memahami dampak kabut asap serta pentingnya tindakan pencegahan.

Melalui diskusi “Berdamai dengan Kabut”, FUSA berharap dapat menumbuhkan kesadaran bahwa berdamai dengan kabut bukan berarti menerima kerusakan lingkungan sebagai sesuatu yang biasa, melainkan membangun ketangguhan dalam menghadapi dampaknya sekaligus memperkuat komitmen untuk mencegah karhutla.

Dengan demikian, FUSA terus mendorong peran perguruan tinggi dalam menghadirkan kajian yang responsif terhadap persoalan masyarakat. Perhatian terhadap karhutla menjadi pengingat bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama, dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kehidupan serta kemaslahatan umat.

Bagikan:

Sukma Sari Dewi Chan

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama. All Rights Reserved.