Sebagai bentuk komitmen untuk terus menumbuhkan semangat keilmuan di kalangan mahasiswa, Program Studi (Prodi) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi kembali menggelar diskusi ilmiah rutin bulanan bersama para dosen dengan tema “Al-Qur’an di Era Digital”. Kegiatan yang berlangsung secara rutin setiap bulan tersebut diadakan secara online melalui Zoom Meeting, diikuti oleh mahasiswa dan para dosen.
Diskusi ilmiah ini bukanlah yang pertama, melainkan kelanjutan dari rangkaian kegiatan serupa yang sudah rutin dilaksanakan sejak tahun 2022 lalu. Kegiatan ini sengaja dirancang untuk diadakan secara berkala setiap bulan mulai bulan maret hingga November 2023, sebagai wadah para mahasiswa memperluas wawasan, mempertajam kemampuan berpikir kritis, serta menjawab tantangan interpretasi Al-Qur’an di tengah dinamika era digital yang semakin kompleks.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Prodi IAT, Dr. Bambang Husni Nugroho, M.HI. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa perkembangan teknologi digital membawa dampak signifikan pada cara umat Islam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tidak hanya memudahkan akses terhadap berbagai kitab tafsir dan rujukan, tetapi juga memunculkan tantangan baru berupa penyebaran penafsiran instan yang kadang menyesatkan.
“Mahasiswa Prodi IAT dituntut untuk tidak hanya cakap memahami Al-Qur’an dari segi teks, tetapi juga harus mampu menganalisis bagaimana fenomena digital memengaruhi pola pemahaman, penyebaran, dan bahkan potensi penyimpangan penafsiran. Diskusi seperti ini diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan daya kritis yang kuat,” ujar beliau.
Materi diskusi tahun ini difokuskan pada tiga bahasan utama: pertama, transformasi metode belajar Al-Qur’an di era digital; kedua, tantangan penyebaran informasi keagamaan di media sosial; dan ketiga, urgensi literasi digital bagi generasi muda Islam. Beberapa dosen hadir sebagai pembahas, dan turut menjelaskan bagaimana peluang dan risiko digitalisasi berdampak pada keberlangsungan kajian tafsir.
Diskusi berjalan begitu interaktif. Mahasiswa terlihat antusias menanggapi paparan para presenter dan tanggapan para dosen, mulai dari membahas fenomena potongan-potongan ayat yang sering disebarluaskan tanpa konteks memadai, hingga problem munculnya seleb-seleb agama di media sosial yang kerap menafsirkan ayat seenaknya. Mereka juga membahas bagaimana teknologi digital seperti aplikasi Al-Qur’an, e-book tafsir, hingga kajian online telah membuka akses luas, namun di sisi lain membutuhkan kehati-hatian agar pemahaman yang dihasilkan tetap mendalam dan bertanggung jawab.
Untuk melihat jadwal lengkap diskusi ilmiah, klik di sini